MENANAM POHON BERNILAI EKONOMIS TINGGI

 MENANAM POHON BERNILAI EKONOMIS TINGGI

Dosen Penanggung Jawab:

Dr. Agus Purwoko, S. Hut, M.Si


Oleh :

Sri Lestari 191201049

Samuel Gelbard Hasibuan 191201050

Stephani Patricia 191201061

Eunike Karennita Br Ginting 191201105

Muhammad Fajar As Arif 191201117

Yunita Sihite 191201124

M. Fabian Manalu 191201206

Kelompok 5

HUT 4C





PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021





KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis hatarkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Adapun judul dari makalah ini adalah “Menanam Pohon Bernilai Ekonomis Tinggi” yang disusun sebagai salah satu syarat dalam mengikuti praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Dalam pembuatan makalah ini, penulis dibantu oleh dosen mata kuliah ekologi hutan yaitu Bapak Dr. Agus Purwoko, S. Hut, M. Si yang telah membantu dan membimbing penulis dalam pelaksanaan pengerjaan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, baik dari segi teknik penyusunan maupun dari segi materi dan pembahasan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi penyempurnaan makalah ini.


Medan, 23 Maret 2021



Penulis







PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Pohon-pohon di hutan alam tumbuh dalam ekosistem yang rapat, sehingga terjadi kompetisi yang ketat untuk mendapatkan cahaya dan unsur hara. Disamping dipengaruhi oleh lingkungan klimatis dan edapis, pertumbuhan pohon di hutan juga dipengaruhi oleh jenis pohon dan kelas diameternya. Berdasarkan referensi tersebut, maka penelitian untuk mengetahui model pertumbuhan pohon- pohon di hutan alam tropis dapat dilakukan dengan mengelompokan jenis pohon serta dibagi dalam kelas-kelas diameternya. Hutan hujan tropis merupakan hutan segala umur yang terbagi dalam lima strata yaitu strata A, B, C, D dan E. Strata A merupakan lapisan paling atas sehingga tajuk pohon mendapatkan cahaya matahari secara penuh baik dari atas atau samping. Strata B merupakan lapisan ke dua dimana tajuk pohon hanya mendapatkan sinar matahari dari atas.Strata C merupakan lapisan ke tiga dimana tajuk pohon hanya mendapatkan sinar matahari dari celahcelah tajuk pohon yang lain. Strata D merupakan lapisan ke empat dimana vegetasi hanya mendapatkan sinar matahari dari pantulan tajuk pohon lain.Strata E merupakan lapisan ke lima yang didominasi tumbuhan bawah, herba, perdu serta semai dari berbagai jenis (Wahyudi dan Anwar, 2013).

Hutan sangat memainkan peran penting dalam perekonomian masyarakat, dahulu kebutuhan kayu komersil bisa didapatkan dengan mudah dari hutan yang sangat lebat. Kini keberadaan pohon kayu tersebut semakin sulit untuk ditemui. Padahal kebetulan akan kayu komersil semakin meningkat beriringan dengan meningkatnya populasi manusia salah satu solusi terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan menanam kayu komersial. Selain berguna untuk mengembalikan keseimbangan alam dengan mereboisasi tanaman. Pohon kayu juga dapat dijual beberapa puluh tahun kemudian sehingga dapat dijadikan lahan bisnis yang menjanjikan. Sumber daya hutan berperan sebagai penggerak ekonomi dapat teridentifikasi dalam beberapa hal, yaitu pertama penyediaan devisa untuk membangun sektor lain yang membutuhkan teknologi dari luar negeri. Kedua, bentuk peranan tersebut yaitu penyediaan lahan dan hutan sebagai modal awal

4

untuk pembangunan berbagai sektor, terutama untuk kegiatan perkebunan, industri, dan sektor ekonomi lainnya. Kayu merupakan produk multiguna, sehingga diperlukan banyak jenis industri dan produk kayu hampir selalu berperan setiap tahapan perkembangan teknologi dan perekonomian ( Mukhlison, 2013).

Indonesia adalah negara agraris yang sebagian besar daerahnya berada di daerah tropis dan langsung dipengaruhi oleh garis khatulistiwa yang memotong Indonesia hampir menjadi dua wilayah, sehingga Indonesia mempunyai kawasan hutan tropis yang luas. Luas seluruh hutan di Indonesia adalah 133.300.543,98 ha. Ini mencakup kawasan suaka alam, hutan lindung, dan hutan produksi. Propinsi dengan luas hutan terbesar adalah gabungan propinsi Papua dan Papua Barat dengan 40,5 juta ha. Propinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur berada diurutan kedua dengan luas 29,9 juta ha. Dengan makin berkurangnya hutan alam dari tahun ke tahun, akan menyebabkan berkurangnya pasokan bahan baku kayu bagi industri perkayuan yang ada selain itu juga dapat meningkatkan emisi karbon di udara apabila pembakaran hutan selalu dilakukan dalam aktivitas manusia baik di dalam ataupun di luar kawasan hutan. Hal yang harus dilakukan adalah memnanam kembali pohon-pohon. Maka dari itu beragam juga pohon- pohonan yang bernilai ekonomis tinggi yang dapat dimanfaatka oleh skala besar maupun skala kecil yaitu usaha menengah. Dengan keanekaragaman pohon yang banyak ini juga turut membuat perekonomian masyarakat yang memanfaatkannya berangsur membaik (Syafi’i dan Suroso,2017)

1.2 Rumusan Masalah

1.1 Apa pengertian dari pohon?

1.2 Apa pengertian dari menanam?

1.3 Apa teknik-teknik yang dilakukan dalam menanam?

1.4 Apa saja jenis-jenis pohon yang bernilai tinggi?

1.3 Tujuan Penulisan

1.1 Untuk mengetahui apa pengertian dari pohon

1.2 Untuk mengetahui apa pengertian dari menanam

1.3 Untuk mengetahui teknik-teknik yang dilakukan dalam menanam

1.4 Untuk mengetahui jenis-jenis pohon yang bernilai tinggi




BAB II ISI


2.1 Pengertian Pohon

Pohon merupakan komponen yang mendominasi pada suatu hutan, yang berperan sebagai organisme produsen dan habitat dari berbagai jenis burung dan hewan lainnya. Pohon dapat dijadikan parameter keanekaragaman hayati di suatu ekosistem. Pohon menggunakan energi radiasi matahari dalam proses fotosintesis, sehingga mampu mengasimilasi CO2 dan H2O menghasilkan energi kimia yang tersimpan dalam karbohidrat dan mengeluarkan oksigen yang kemudian dimanfaatkan oleh semua makhluk hidup di dalam proses pernapasan. Keanekaragaman pohon dapat digunakan untuk menyatakan struktur komunitas. Keanekaragaman pohon juga dapat digunakan untuk mengukur stabilitas komunitas, yaitu kemampuan suatu komunitas untuk menjaga dirinya tetap stabil meskipun ada gangguan terhadap komponennya (Wahyudi et al., 2014).

Pohon sebagai bagian dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) memiliki fungsi yang sangat penting. Pohon merupakan penetralisir sumber pencemar gas buangan kendaraan bermotor, tajuknya yang rindang memberikan keteduhan, sistem perakarannya dapat meningkatkan infiltrasi air permukaan, dan mengurangi air limpasan sehingga meningkatkan jumlah air di dalam tanah. Di samping itu, arsitektur pohon yang beraneka ragam juga memberikan nilai tambah keindahan. Fungsi-fungsi pohon tersebut dapat berjalan dengan baik apabila ditunjang oleh faktor-faktor pendukung seperti faktor lingkunagn dan tingkat adaptasi dari pohon itu sendiri terhadap lingkungannya (Stalin et al., 2013).

2.2 Pengertian Menanam

Menanam merupakan suatu tindakan kepedulian terhadap lingkungan. Pengaplikasian menanam yakni dengan ikut serta dalam kegiatan memindahkan bibit dari tempat penyemaian ke lahan pertanaman untuk mendapatkan hasil produk dari tanaman. Pola tanam adalah usaha penanaman pada sebidang lahan dengan mengatur susunan tata letak dan tata urutan tanaman selama periode waktu tertentu, termasuk massa pengolahan tanah dan masa bera atau tidak ditanam selama periode tertentu. Penanaman dalam jalur adalah kegiatan

menanam dalam rangka pemanfaatan ruang tumbuh dengan jenis-jenis tanaman unggulan setempat.

2.3 Teknik-Teknik Yang Digunakan Dalam Menanam

Kegiatan penanaman merupakan kegiatan inti dari budidaya hutan. Kegiatan penanaman mempunyai beberapa macam tujuan diantaranya untuk tujuan penanaman rutin, penanaman pengayaan, reboisasi atau penghijauan serta untuk tujuan konservasi. Selain itu, penanaman juga mempunyai tujuan untuk mendapatkan tegakan yang sehat serta memiliki persediaan tanaman yang cukup di masa yang akan datang. Tanaman yang sehat dihasilkan dari bibit yang sehat pula. Maka setiap unit penanaman dianjurkan untuk membilih bibit yang siap ditanam di lapangan. Selain itu cara penanaman bibit yang benar perlu diperhatikan karena cara penanaman sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit di lapangan

1.1 Pemilihan Jenis Pohon

Secara umum, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis pohon. Yaitu tujuan penanaman, kecocokan jenis dengan tempat tumbuhnya, ketersediaan bibit yang akan ditanam, dan penguasaan teknik budidaya agar pohon mempunyai nilai ekonomi yang tinggi setelah dipanen. Keseuaian jenis pohon dengan tempat tumbuhnya memungkinkan pohon akan tumbuh secara optimal.

1.2 Penentuan Jarak Tanam

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penentuan jarak tanam yakni tingkat kesuburan tanah, jenis tanaman, dan tingkat kemiringan lahan. Pada tanah yang subur, jarak tanam biasanya lebih besar jika dibandingkan pada tanah yang kurang subur. Jenis tanaman yang bertajuk lebar ditanam dengan jarak yang lebih besar, dibandingkan dengan yang bertajuk kecil. Pada umumnya jarak tanam yang dipakai adalah 3 × 3 m, 3 × 5 m atau 4 × 5 m. Jarak tanam ini dibuat dalam larikan yang teratur mengikuti ketinggian tempat.

1.3 Penentuan Sistem Penanaman

Metode penanaman tanaman hutan dapat dilakukan dengan pola Monokultur maupun Tumpangsari.

a. Penanaman dengan pola monokultur, yakni penanaman satu jenis tanaman. Terdapat kelemahan dalam penanaman dengan monokultur yakni memberi peluang munculnya hama dan penyakit yang tidak pernah putus. Selain itu juga memungkinkan terjadinya ledakan hama karena persediaan makanan tercukupi.

b. Penanaman tumpang sari

• Penanaman tanaman pokok, dan di antara tanaman pokok juga ditanam satu jenis tanaman lain

• Tanaman selalu ditanam saat penanaman tanaman pokok

• Umur tanaman selalu harus lebih pendek dari tanaman poko.

1.4 Evaluasi Kegiatan Penanaman

Evaluasi kegiatan penanaman dimaksudkan untuk mengetahui keberhasilan penanaman dan untuk menentukan kegiatan penyulaman. Keberhasilan tanaman di lapangan biasanya dilihat dari persentase kematian atau hidup tanaman di lapangan

2.4 Contoh Pohon Bernilai Ekonomis Tinggi

a. Pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.)

Pengadaan bahan obat akhir-akhir ini melalui pembudidayaan tanaman obat makin penting dengan berkembangnya industri jamu di Indonesia. Pemerintah maupun swasta nasional berupaya mengembangkan budi daya tumbuhan obat dan penanganannya mendapat perhatian yang lebih besar. Salah satu jenis tumbuhan obat yang terdapat di hutan dan berpotensi dimanfaatkan adalah pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.). Pasak bumi adalah satu dari 41 jenis tumbuhan obat yang perlu mendapat prioritas utama dalam program penelitian, penangkaran, pengembangan, dan pemanfaatannya. pasak bumi pada umumnya berbentuk semak atau pohon, tingginya dapat mencapai 10 m, berdaun majemuk menyirip ganjil, batangnya berwarna kuning, kulit batang keras, dan rasanya sangat pahit. Keseluruhan bagian dari tumbuhan pasak bumi dapat digunakan sebagai obat, antara lain obat demam, radang gusi, obat cacing, dan sebagai tonik setelah melahirkan. Batang dan akar pasak bumi telah diperdagangkan secara luas sampai ke Malaysia berkhasiat untuk meningkatkan stamina di samping sebagai obat sakit kepala, sakit perut, dan sipilis. Daun pasak bumi dipakai sebagai obat disentri, sariawan, dan meningkatkan nafsu makan.

b. kemiri (Aleurites moluccanus)

Kemiri (Aleurites moluccana Wild.) merupakan tanaman serbaguna yang penting di Indonesia. Tanaman kemiri adalah tanaman berpohon besar dengan ketinggian dapat mencapai 25-40 meter, tumbuh dipergunungan pada ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut. Biji kemiri tergolong buah batu karena berkulit keras menyerupai tempurung dengan permukaan luar yang kasar berlekuk. Tempurung biji ini tebalnya sekitar 3 - 5 mm, berwarna coklat atau kehitaman. Kemiri yang bersumber dari suatu daerah memiliki tingkat kekerasan (firmness) yang berbeda dengan daerah yang lain. Biji kemiri banyak sekali kegunaannya terutama untuk bumbu masak,bahan baku kosmetik, bahan dasar cat atau sebagai bahan pengawet kayu dan bahan farmasi. Produksi kemiri bertujuan untuk konsumsi lokal dan ekspor.

Kemiri Indonesia atau Aleurites moluccana merupakan golongan kacang macadamia. Bentuk keduanya sekilas juga hampir mirip. Keduanya memiliki cangkang keras berkerut dan berwarna putih kekuningan. Tekstur bijinya sedikit keras. Walau begitu, rasa kacang macadamia dan kemiri sangatlah berbeda. Kemiri memiliki banyak nama lain, seperti candlenut, indian nut, kukui nut, dan juga candle berry. Beberapa daerah di Indonesia juga menyebut kemiri dengan nama berbeda. Seperti sapiri (Makasar), ampiri (Bugis), bintalo dudula (Gorontalo), sakete (Ternate), dan hagi (Buru). Kemudian kereh (Aceh), hambiri (Batak), buah kareh (Minangkabau), muncang (Sunda), komere (Madura), kameri (Bali), dan kemiri (Jawa). Kemiri memiliki kandungan lemak yang cukup tinggi yakni sekitar 60 persen. Hal tersebutlah yang membuat kemiri dapat mengeluarkan rasa gurih, hal lain yang terkandung dalam kemiri yakni gliserida - 30 persen, asam linoleat, palmitat, stearat, dan mristat. Kemudian protein, vitamin B1, asam lemak (55 - 60 persen), dan gliserin. Selain sedap, masakan yang ditambahkan dengan kemiri juga lebih kuat aromanya. Jika akan digunakan sebagai obat, kemiri tidak boleh dikonsumsi secara langsung dalam keadaan mentah. Hal ini karena kandungan getah pada biji kemiri dapat menjadi racun yang dapat menimbulkan masalah pada tubuh seperti gangguan pada lambung dan juga gangguan pada jantung.




BAB III

PENUTUP


3.1 Kesimpulan

1. Pohon merupakan komponen yang mendominasi pada suatu hutan, berperan sebagai organisme produsen dan habitat dari berbagai jenis burung serta hewan lainnya.

2. Menanam merupakan tindakan kepedulian terhadap lingkungan dengan memindahkan bibit dari tempat penyemaian ke lahan pertanaman untuk mendapatkan hasil produk dari tanaman.

3. Teknik yang perlu diperhatikan dalam menanam pohon bernilai ekonomis tinggi adalah pemilihan jenis pohon, penentuan jarak tanam dan penentuan sistem penanaman.

4. Jenis pohon bernilai ekonomi tinggi diantaranya pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack) dan kemiri (Aleurites moluccana Wild).

5. Hasil utama dari pohon Pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.) adalah obat demam, radang gusi, obat cacing dan lainya. Sedangkan hasil utama pohon Kemiri (Aleurites moluccana Wild.) adalah Biji kemiri yang digunakan untuk bumbu masak, bahan baku kosmetik, bahan dasar cat dan bahan farmasi.

3.2 Saran

Sebaiknya praktikan lebih memahami konsep pohon bernilai ekonomis tinggi serta mempelajari materi yang akan dipraktikumkan sebelum melakukan praktikum agar pada saat penyampaian materi berfokus pada pertanyaan yang diajukan praktikan.




DAFTAR PUSTAKA


Budi SW. 2006. Module Pelatihan Penanaman Pohon. Faculty of Forestry IPB. Bogor.

Dwi RH, Susi A, Ragil B. 2011. Kajian Sengon ( Paraserianthes faltarica ) Sebagai Pohon Bernilai Ekonomi dan Lingkungan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 6(3) : 201-203.

Heriyanto NM, Reny S, dan Endro Subiando. 2006. Kajian Ekologi dan Potensi Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack.) di Kelompok Hutan Sungai Manna-Sungai Nasal, Bengkulu. Buletin Plasma Nutfah. 12 (2): 68-75.

Mukhlison. 2013. Pemilihan Jenis Pohon Untuk Pengembangan Hutan Kota di Kawasan Perkotaan Yogyakarta. Jurnal Ilmu Kehutanan 8(1) : 1-11.

Stalin M, Farah D, Harnani H. 2013. Analisis Kerusakan Pohon di Jalan Ahmad Yani Kota Pontianak. Jurnal Hutan Lestari, 1 (2) : 100-107.

Syafi’i M, Suroso. 2017. Kajian Pengelolaan Hutan Produksi Desa Senanggalih Kec Sambela Kab Lombok Timur. Jurnal Geodika 2(1) : 29-36

Syahputra N, Mawardhati, Saryati. 2017. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Petani Memilih Pola Tanam pada Tanaman Perkebunan Di Desa Palas Kecamatan Ranto Peureulek Kabupaten Aceh Timur. Jurnal Agrifor. 2(1).

Wahyudi A, Sugeng PH, Arief D. 2014. Keanekaragaman Jenis Pohon di Hutan Pendidikan Konservasi Terpadu Tahura Wan Abdul Rachman. Jurnal Sylva Lestari, 2 (3) : 1-1-0.

Wahyudi dan Anwar M. 2013. Model Pertumbuhan Pohon-pohon di Hutan Alam Paska Tebangan Studi Kasus pada Hutan Alam Produksi di Kab Kapuas Kalimantan Tengah. Jurnal Ilmu Hayati dan Fisik 15(3) : 190-195.

Wirosoedarmo R, Usman A. 2018. Studi Perencanaan Pola Tanam dan Pola Operasi Pintu Air Jaringan Reklamasi Rawa Pulau Rimau Di Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan. Jurnal Perencanaan Pola Tanam. 3(1): 56-66.



Komentar